Jan Pieteezoon Coen Jenderal – Gubernur VOC
Patung Jan Pieterzoon Coen
Minggu, 22 September 2025|Pukul 01:53 Wib
Nama Lengkap Jan Pieterszoon Coen
Lahir 8 Januari 1587 (atau baptis 8 Januari 1587) di Hoorn, Belanda. Dia lahir dari keluarga yang berlatar belakang taat Calvinis, ayah bernama Pieter Janszoon van Twisk.
Pendidikan awal ia magang di Roma sekitar usia 13 untuk belajar perdagangan, pembukuan, dan bahasa-bahasa Eropa. Dia meninggal dunia pada tanggal 21 September 1629, di Batavia (sekarang Jakarta).
Karier Dan Perjalanan Hidup
Jan Pieterszoon bergabung dengan Perusahaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Hindia Timur Belanda pada tahun 1607 dan ikut pelayaran pertama ke Hindia Timur di bawah armada Pieter Verhoeff.
Pada pelayaran itu, Verhoeff dan beberapa awaknya terbunuh di Banda dalam negosiasi dengan penguasa lokal dan Coen dinyatakan berhasil dan selamat.
Setelah kembali ke Belanda, Coen menyusun laporan tentang kemungkinan perdagangan di Asia Tenggara yang kemudian membuat ia dipanggil kembali ke Hindia Timur sebagai petugas dengan pangkat lebih tinggi.
Naik Jabatan dan Ditempatakan
Sekitar 1613–1614, Coen menjadi “accountant-general” VOC di Asia, dan menjabat direktur‐jenderal. Ia membangun monopoli cengkeh (clove) di Maluku dan pala/marga rempah (nutmeg dan mace) di Kepulauan Banda.
Penaklukan Jayakarta Dan Pendirian Batavia
Karena konflik dengan Kesultanan Banten dan kekhawatiran akan campur tangan Inggris, VOC yang dipimpin Coen memindahkan pusat dari Banten ke Jayakarta (Sunda Kelapa).
Pada 30 Mei 1619, Coen berhasil menaklukkan Jayakarta, membakar sebagian kota, lalu mendirikan kota baru di atas reruntuhannya Batavia.
Nama “Batavia” diambil untuk mengacu pada Suku Batavi yang dianggap sebagai leluhur Belanda. Coen sempat mengusulkan nama “Nieuw Hoorn” (karena asalnya dari Hoorn), tapi tidak disetujui.
Kekuasaan Sebagai Gubernur‐Jenderal
Coen diangkat Gubernur‐Jenderal VOC dua periode, periode pertama sekitar 1618–1623, dan periode kedua dari 1627 hingga kematiannya pada 1629.
Selama masa kekuasaannya ia melakukan berbagai tindakan militer untuk mengukuhkan monopoli VOC atas rempah-rempah dan memperluas wilayah pengaruh VOC.
Tindakan Kontroversial Dan Kritik
Jan Pieterszoon Coen sosok tokoh yang sangat kontroversial, dari satu sisi dianggap pendiri arsitek awal kolonialisme Belanda di Nusantara, dari sisi lain banyak tindakannya sangat brutal.
Penaklukan dan Penghancuran Jayakarta Jayawikarta. Pembakaran kota lama, pengusiran penduduk, dan pembangunan kota baru sebagai Batavia.
Kepulauan Banda dan Genosida
Untuk mendapatkan monopoli pala dan mace, VOC di bawah Coen melakukan aksi militer di Kepulauan Banda (tahun 1621). Banyak penduduk Banda dibunuh dan diserang. Sebagian besar yang selamat diperbudak atau diusir.
Populasi Banda yang di perkirakan sekitar 15.000 orang, hanya 1.000 orang yang diperkirakan selamat dan sisanya dinyatakan meninggal dunia.
Amboyna Atau Amboina Massacre
Ada insiden di Amboina (Maluku), di mana orang Inggris yang bekerja sama dengan VOC ditangkap, disiksa dan diadilli. Insiden ini menimbulkan kontroversi internasional. Coen dituduh sebagai pihak yang paling bertanggung jawab moral.
Untuk tujuan ekonomi Coen berkali-kali menggunakan kekerasan (militer) atau ancaman militer untuk memaksakan kontrak monopoli VOC dengan kerajaan-kerajaan lokal. Banyak pihak menyebut metode ini kejam dan tidak manusiawi.
Warisan Dan Pengaruh
Institusi dan Kota Batavia dijadikan sebagai pusat kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara selama hampir 300 tahun sampai masa kemerdekaan. Coen dianggap tokoh penting dalam membangun infrastruktur VOC di Indonesia dan pengaturan pemerintahan kolonial.
VOC di bawah Coen mencapai monopoli rempah-rempah penting (nutmeg, mace, cengkeh) di wilayah yang secara ekonomi sangat menguntungkan Belanda dan merugikan pedagang lokal atau negara-negara tetangga.
Kritik Modern dan Kontroversi Sejarah.
Di Belanda dan Indonesia sekarang, Coen bukan lagi dilihat sebagai “pahlawan tanpa cela”, kritik tentang kekejamannya terhadap pemusnahan penduduk di Banda dan perlakuan terhadap penduduk pribumi, dan monopoli yang keras, makin banyak dibincangkan.
Simbol Dan Monumen
Ada patungnya di Hoorn (Belanda) dan di Jakarta patungnya juga pernah berdiri di Lapangan Banteng di masa kolonial dan patung Batavia-nya itu dihancurkan pada masa pendudukan Jepang.
Berbagai Sumber…


https://shorturl.fm/R9NU5
https://shorturl.fm/s6lDo