
Yohanes Bastian Roja Seorang Murid SD di Ngada Bunuh diri Karena kemiskinan.
TRANS-CYBER.cim, — Kalaulah para pejaba-pejabat Negeri ini masih memiliki moral dan tanggung jawab mungkin Yohanes Bastian Roja (YBR) almarhum tak akan terjadi tindakan bunuh diri.
Sebagaimana platform media-media sosial nasional dan media konvensional ramai-ramai memberitakan kematian S
Kabar seorang siswa SD di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal karena bunuh diri. Tragisnya kematian Yohanes disebabkan akibat kemiskinan dan tidak mampu membeli buku dan pena.
Kematiannya yang tidak wajar itu, seketika menggema keruang publik membuat jagat dunia medsos bak huru-hara menembus sampai ke telinga – telinga penguasa-penguasa Negeri ini.
Berita heboh dimana – mana, ruang-ruang publik menembus ruang-ruang privasi pejabat, media sosial dibuat semakin ramai. Keadaan YBR bukan sekedar kemiskinan melainkan kejujuran. Seharusnya kematian YBR tidak perlu terjadi.
Kemiskinan YBR adalah masalah kejujuran pemerintah yang seolah-olah dibuat menjadi barang haram karena kemiskinan dimata sebagai ancaman bagi citra terhadap kepalsuan yang sudah mengakar selama ini.
Nilai rupiah untuk sekedar kebutuhan membeli alat belajar harus merenggut nyawa peserta didik. Ini Kemiskinan moral dan kemiskinan tanggung jawab yang melukai ibu pertiwi dan membuat 280juta rakyat menangis.
Pemerintah tidak sama sekali tidak peduli dengan kemiskinan rakyat, bagi mereka cukup memproduksi kata-kata yang menyakiti yang mengeluarkan aroma busuk dan menjijikan.
YBR Dimata Kepala Sekolah
Kepala Sekolah SD Negeri Rj, Maria Ngene mengatakan YBR tak ada perundungan terhadap almarhum di lingkungan sekolah. “Saya pastikan tidak ada bullying. Kami anak-anak desa, hampir semua anak petani tidak ada yang namanya menghina atau bully,” tegasnya.
Menurutnya, Yohanes dikenal sebagai siswa yang berperilaku baik. Dia juga tidak pernah menimbulkan masalah selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” katanya.
Mengenai perlengkapan belajar Yohanes yang kurang, Maria menyatakan pihak sekolah tidak mengetahui secara rinci. Karena menurut dia, pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing.
“Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujarnya.
“Tidak ada laporan atau keluhan. Kami memang tidak bisa memantau kondisi pribadi semua siswa secara detail,” katanya.****



