Lapas Kelas IIA Bukittinggi Maksimalkan Pembinaan Spiritual di Bulan Ramadhan

Bukittinggi, trans-cyber.com, — Di tengah keterbatasan sumber daya manusia dan kapasitas sarana, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bukittinggi konsisten lakukan kegiatan keagamaan selama bulan suci Ramadan.

Kegiatan program bina iman dibawah koordinasi Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), Abdul Silaban. Ia menegaskan bahwa pendekatan spiritual menjadi salah satu strategi menjaga dan mengendalikan keamanan karena diyakini dapat mengubah perilaku warga binaan.

“Pendekatan spiritual salah satu strategi menjaga dan mengendalikan keamanan karena diyakini dapat mengubah perilaku warga binaan” kata Abdul.

Lebih lanjut Abdul mengatakan, selama Ramadan kegiatan keagamaan, mulai dari salat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hingga lomba tahfidz dan adzan aktif dilakukan.

“Ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi kegiatan pembinaan berbasis pendekatan moral dan keagamaan, terbukti efektif menciptakan suasana lapas menjadi kondusif, khususnya selama Ramadan ini” ungkap Silaban.

Salat tarawih secara bergilir terpaksa dilakukan karena keterbatasan daya tampung masjid lapas yang hanya mampu menampung sekitar 150 hingga 200 jamaah, sementara jumlah warga binaan melampaui 500 orang.

Skema bergilir ini diterapkan selama Ramadhan, misalnya tiga hari pertama diikuti warga binaan Blok A dan Blok C, kemudian dilanjutkan Blok B dan Blok D pada hari berikutnya. Pola ini terpaksa dilakukan agar seluruh warga binaan memperoleh haknya secara proporsional.

Kegiatan pengamanan selama Ramadan juga dilakukan penambahan petugas khusus bagi petugas yang berdomisili di sekitar lapas. Meski demikian, pihak lapas mengakui rasio petugas dan warga binaan masih belum ideal.

Dari Balik Jeruji, Hafal Tiga Juz Al-Qur’an
oleh seorang warga binaan asal Pasaman Barat, Muhammad Jamil, menjadi contoh konkret hasil pembinaan spiritual tersebut.

Kepada awak media, Muhammad Jamil mengaku selama menjalani masa pidana berhasil menghafal tiga juz Al-Qur’an lengkap dengan pemahaman arti ayat.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi titik balik dalam proses refleksi diri selama berada di dalam lapas.

“Di sini saya justru menemukan kesempatan belajar agama lebih serius. Alhamdulillah sudah hafal tiga juz beserta artinya,” ujar Muhammad.

Sejalan dengan pengakuan Muhammad, seorang petugas yang identitasnya tidak mau dipublis, mengungkapkan bahwa pembinaan di Lapas Kelas IIA Bukittinggi tidak hanya berfokus pada aspek religius tetapi juga kegiatan belajar mengajar yang melibatkan 32 peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan, 16 orang ditunjuk sebagai tutor sesuai bidang pelajaran.

Progam ini bersinergi dengan Kwartir Cabang Agam melalui pembentukan gugus depan (gudep) kepramukaan yang telah memiliki Dewan Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus).

Hal itu merupakan upaya kerja keras untuk rencana pembentukan pesantren wajib bagi warga binaan hingga kini belum dapat direalisasikan karena terjendala keterbatasan anggaran dan minimnya tenaga petugas.

Untuk warga binaan beragama Nasrani, pembinaan rohani tetap difasilitasi melalui kehadiran tutor dari Yayasan Kasih Cinta Damai Padang sebagai bentuk pelayanan pembinaan yang inklusif.

Satu Petugas Banyak Program

Realitas paling krusial justru terletak pada aspek sumber daya manusia. Saat ini, hanya satu petugas yang menangani berbagai kegiatan pembinaan dalam jumlah warga binaan yang besar.

Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah program strategis seperti olahraga, pengembangan UMKM, hingga pertanian belum dapat berjalan optimal. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep pemasyarakatan yang ideal dengan kapasitas operasional di lapangan.

Petugas tersebut berharap adanya intervensi nyata dari para stakeholder, baik pemerintah daerah maupun instansi terkait, untuk memperkuat sistem pembinaan di lapas.

“Harapannya ada dukungan konkret agar warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi benar-benar pulang dengan keterampilan dan perubahan mental yang nyata,” ujarnya.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, Lapas Kelas IIA Bukittinggi tetap berupaya mempertahankan fungsi pemasyarakatan sebagai ruang pembinaan, bukan sekadar tempat menjalani pidana — sebuah pekerjaan sunyi yang menuntut komitmen di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *